Nisa HEBAT
Langkah semakin jauh meninggalkan tapak di mana aku mula belajar untuk berdiri menggunakan kaki sendiri. Hari2 yang dilalui terasa semakin sejuk dan dinginnya menggigit tulang hingga aku xterdaya lagi merasai kehangatan yang dulunya mencengkam sanubari. Kehilangan arah tujuan membuatkan aku hanyut dalam mencari jalan yang benar...yang dulunya depan mata tapi kini lenyap di bawa arus masa. Tika yang mengulit aku bersama senyuman kebahgiaan semakin luntur seolah2 ia berlari meninggalkan aku tanpa sekulamit perasaan lagi terhadap aku...

Aku menerima seadanya insan2 sekelilingku tanpa sedikit perasaan prejudis hatta prasangka buruk agar tiada dunia hipokrasi di sekelilingku...Dalam kepasrahan aku berharap segalanya berjalan tanpa tersungkur, berenang tanpa lemas, menelan tanpa tercekik dan menggenggam tanpa tiris sedikit pun. Namun, kepasrahan amat menyakitkan. Hati yang terluka semakin parah. Jiwa yang kacau semakin berdarah. Suara tidak lagi mahu mendendangkan alunannya... Insan biasa yang dulunya gagah kini semakin lemah dan menunggu masa untuk rebah...


Impian yang pernah dicipta mampukah menjadi realiti yang abadi... Duka lara yang terpendam sudah mampat lagi tepu dan semakin sukar untuk dihakis. Aku mendambakan insan yang mampu memberikan udara untuk bernafas dan melemparkan setitis air agar aku berjaya melenyapkan kemarau di gurun paling panas. Membisikkan kata indah agar cahaya kembali bersinar dan menghembuskan kegagahan agar bisa aku memijak kelemahan ini dengan penuh keyakinan dan kekuatan. Aku terus memuja dan terlanjur merindu saat2 manis yang aku sendiri xpasti mampukah aku menghidupkannya kembali...


Mendakap sekeping hati sememangnya mengasyikkan...Tapi kelihatan dakapan itu semakin longgar dibawa perasaan... Sungguh, kini lidahku sudah arif belajar menyembunyikan kesedihan sehingga hatiku dibuai kegelapan dalam cahaya bulan. Hati semakin mati. Aku bukan lagi aku yang dulu, hanya untuk membiarkan insan lain menjadi dirinya sendiri... Aku rindukan desiran tawanya dan haruman baunya agar aku bangkit kembali. Terperangkap dalam kilauan permata yang dihasilkan sendiri membuatkan aku terasa seperti insan bodoh yang akalnya bermain dengan mimpi.


Kehilangan teman berbicara yang hilang tiba2 menyaksikan aku semakin sukar menempuhi semuanya..Hujan di luar menambahkan kesejukan... Segeralah kembali wahai teman agar dapat aku berpaut pada dahanmu, agar bisa aku nyanyikan tangisanku dan mampu aku menyaksikan keindahan bersamamu... Kesunyian dalam kesepian menambahkan beban perasaan. Kehidupan dan memori lalu semakin galak bermain di mata. Arh!


Tolonglah aku dari kesakitan ini. Selamatkan aku sebelum aku hancur. Kadangkala aku rasakan aku diperlukan hanya ketika saat2 getir dan memberikan senyuman untuk membangkitkan perasaan. Kini aku semakin rapuh, rapuh dan rapuh! Aku semakin gentar... Mencabarnya hidup dan aku semakin tercabar. Tidak banyak yang dipinta, sekadar menjadi pendengar setia dan merangsang ketawa... Menitipkan kata2 indah tanpa gundah... Membunuh frasa2 yang mencalarkan jiwa... Menghargai kewujudan aku andai masih terasa perlu... Semakin sakit, sakit, dan sakit.....Menyemai kesabaran dan melepaskan keegoaan. Menjadi putera dan bukannya raja...
2 Responses

  1. NisaHEBAT Says:

    =)
    when it comes sincerely from heart,
    no matter what language u use,
    it will walk to other's heart back.